Pujon, Kabupaten Malang, Mediapewarta.com – Kisah Pilu Pendaki Gunung Kawi Najang, sebuah kisah pilu kembali menyelimuti dunia pendakian Jawa Timur. Firman Widya Pratana (27), seorang pemuda asal Dusun Kalisogo, Dau, Kabupaten Malang, meninggal dunia setelah dievakuasi dari kawasan Gunung Kawi Najang. Insiden tragis ini terjadi pada Rabu (14/1/2026) dan diduga kuat disebabkan oleh serangan jantung mendadak atau yang kerap disebut “angin duduk”.

Kronologi dari Detik ke Detik: Semuanya Tampak Normal
Menurut penuturan Agus Suyono, pengelola loket pendakian di Basecamp Kawinajang, Dusun Cukal, Desa Bendosari, Pujon, kondisi korban saat registrasi pukul 06.30 WIB terlihat baik-baik saja. Tidak ada keluhan atau tanda-tanda kesehatan yang mengkhawatirkan.
“Awalnya semua normal. Saat registrasi dan memulai pendakian, tidak ada masalah sama sekali,” ujar Agus.
Firman bahkan sempat berinteraksi riang dengan warga setempat. Sebuah ucapan yang kini terasa menusuk diungkapkannya: “Aku paling nggak sampai puncak, Mas. Nanti turun sebelum maghrib sudah sampai.” Kalimat canda itu kini menjadi kenangan terakhir yang menyayat hati.
Perubahan Cuaca Ekstrem dan Keputusan di Pos 1
Cuaca berbalik tak bersahabat. Sejak pukul 12.30 WIB, hujan lebat mulai mengguyur kawasan pendakian. Firman yang turun lebih lambat dari rombongannya memutuskan untuk beristirahat di Pos 1 (Petak 101) sekitar pukul 15.00 WIB. Di tempat itulah, ia membuat kopi untuk menghangatkan diri dan menyuruh rekan perempuannya untuk turun terlebih dahulu.
“Posisinya di zona aman, sedang hujan. Dia bersama 9 orang lain yang sedang bersiap turun. Tiba-tiba, kejadian. Langsung pingsan,” jelas Agus, menggambarkan detik-detik kritis tersebut.
Upaya Evakuasi dan Penanganan Medis
Tim gabungan yang terdiri dari Perhutani, aparat desa, dan relawan basecamp segera melakukan evakuasi dalam kondisi hujan. Korban akhirnya tiba di basecamp sekitar pukul 17.00 WIB. Sayangnya, tim medis desa hanya bisa memastikan Firman telah meninggal dunia.
“Gejalanya mengarah ke serangan jantung. Angin duduk itu bisa menimpa siapa saja, tiba-tiba,” tambah Agus, menekankan sifat kondisi medis yang tak terduga tersebut.
Edukasi bagi Para Pendaki: Kesehatan adalah Prioritas Utama
Keluarga di Dau telah menerima kabar duka ini. Dalam kesedihan, pengelola basecamp dan pihak terkait mengimbau kepada seluruh kalangan pendaki untuk selalu menjadikan kesehatan fisik sebagai prioritas mutlak sebelum memutuskan mendaki.
“Kita harus benar-benar sehat dan jujur pada diri sendiri soal kondisi tubuh. Ini untuk meminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan di gunung,” pesan Agus.
Insiden di Gunung KawiNajang ini menjadi pengingat pahit bahwa gunung tak pernah gagal untuk menguji, dan kesiapan fisik serta mental adalah modal terbesar yang harus dibawa setiap penggiat alam bebas
Baca juga;














