Tali Sling jadi Akses Utama di Ketol Aceh Tengah, untuk Jalan Warga Menyeberangi Sungai hingga Mengangkut Hasil Panen

Tali Sling jadi Akses

Tali Sling jadi Akses Utama di Ketol Aceh Tengah, untuk Jalan Warga Menyeberangi Sungai hingga Mengangkut Hasil Panen
Ayah dan anak menyeberangi sungai di Desa Burlah, Kecamatan Ketol dengan tali sling karena jembatan putus.
banner 728x90

SUMATRA, Mediapewarta.com – Sudah 40 hari sejak banjir bandang dan tanah longsor menerjang 3 provinsi di Sumatera, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Lebih dari sebulan pascabanjir awal, masih ada sejumlah desa yang terisolir karena akses jalan yang terputus total.

Salah satunya di beberapa desa di Kecamatan Ketol, Aceh Tengah yang warganya masih kesulitan karena jalan yang putus total.

Satu-satunya yang bisa diharapkan oleh warga Kecamatan Ketol adalah tali sling sebagai penghubung beberapa desa.

Momen Ayah dan Anak Desa Burlah saat Menyeberangi Sungai

Dalam video yang diunggah oleh akun Instagram @explore_ketol, menunjukkan perjuangan seorang ayah dan anak di Desa Burlah saat akan menyeberangi sungai.

Keduanya berpegangan erat ketika air di bawahnya memiliki arus deras dan penerangan yang minim.

“Sebanyak sembilan desa masih terisolir, terputus dari akses utama, dan harus menjalani kehidupan dalam gelap gulita tanpa aliran listrik,” tulis keterangan pada video yang diunggah pada Senin, 5 Januari 2026.

Terlihat di video tersebut, penerangan hanya mengandalkan flash HP dan lampu senter untuk memantau proses menyeberangi sungai.

Tali Sling untuk Mobilitas Sehari-hari

Tali sling dari kabel listrik PLN itu dibuat oleh masyarakat sebagai satu-satunya cara agar warga tetap bisa beraktivitas, meski bahaya jatuh dan hanyut mengancam.

Tak hanya untuk menyeberang warga, tali sling itu juga menjadi cara agar hasil bumi seperti durian, cabai, kopi, hingga beras tetap bisa terangkut sampai ke pasar.

Tali sling tersebut menjadi urat nadi beberapa desa di Kecamatan Ketol yang masih terisolasi, di antaranya Desa Kekuyang, Burlah, Bintang Pepara, dan Buge Ara.

Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga, sempat menyatakan bahwa telah menyampaikan permasalahan akses tersebut kepada Presiden dan Menteri ketika rapat bersama.

Update Persiapan Pembangunan Huntara untuk Warga Kecamatan Ketol

Banjir bandang dan tanah longsor tak hanya merusak akses jalan warga, tetapi juga rumah yang sehari-hari menjadi tempat tinggalnya.

Sebulan tinggal di pengungsian, pemerintah setempat segera membangun hunian sementara (huntara).

Menurut data dari Pemkab Aceh Tengah, ada 128 Kepala Keluarga (KK) yang masih tinggal di pengungsian.

Pembangunan huntara di Kecamatan Ketol akan tersebar di tiga lokasi, yang masing-masing diperuntukkan bagi warga Desa Serempah, Desa Burlah, dan Desa Bintang Pepara.

Hunian sementara tersebut dibangun dalam bentuk blok, di mana satu blok terdiri dari lima unit hunian.
***

banner 728x90

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!