BLITAR, Mediapewarta.com – Ribuan pasang mata tertuju pada puluhan raksasa yang diarak keliling kota. Bukan raksasa sungguhan, melainkan 54 ogoh-ogoh yang menjadi bintang utama dalam perayaan Tawur Agung Kesanga 2026 di RTH Taman Idaman Hati, Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar, Rabu (18/3/2026). Kemeriahan dan nuansa kesucian menyatu dalam pelaksanaan ritual tahunan umat Hindu ini.
Sejak pukul 6 pagi, kawasan ruang terbuka hijau itu sudah dipadati ribuan umat Hindu dari seluruh Blitar Raya—mencakup Kabupaten Blitar dan Kota Blitar. Mereka datang dengan busana adat lengkap, membawa canang dan perlengkapan upacara, untuk mengikuti persembahyangan bersama sebagai bagian penting menjelang Hari Suci Nyepi. Suasana sakral dan penuh kesucian langsung terasa saat prosesi Tawur Agung dimulai pukul 07.00 WIB.
Prosesi Sakral yang Penuh Makna
Rangkaian upacara dipuput oleh Ida Pandita Jaya Nanda Putra Nirmala. Doa-doa dipanjatkan untuk memohon keselamatan, keseimbangan alam semesta, serta penyucian Bhuana Alit (diri manusia) dan Bhuana Agung (alam semesta). Setiap gerakan dan mantra yang dilantunkan membawa pesan mendalam tentang pentingnya harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan.
Umat yang hadir dengan khusyuk mengikuti setiap rangkaian prosesi. Suasana sakral ini menjadi pengingat akan pentingnya menjaga keseimbangan hidup dan merenungkan makna spiritual sebelum menjalani Catur Brata Penyepian.
54 Ogoh-Ogoh: Simbol Budaya dan Gotong Royong
Kemeriahan tidak hanya hadir dalam rangkaian upacara. Sebanyak 54 ogoh-ogoh yang telah didatangkan ke lokasi sejak Selasa malam (17/3) sekitar pukul 23.00 WIB, siap diarak dalam pawai yang menjadi daya tarik utama. Sosok Buta Kala raksasa dengan beragam bentuk dan karakter—ada yang menyeramkan, lucu, hingga artistik—kini siap “digiring” keliling kota.
Begitu pawai dimulai, suasana berubah menjadi karnaval raksasa. Sorak antusias penonton dan umat mengiringi langkah para peserta. Ogoh-ogoh diusung oleh berbagai kelompok, mulai dari bapak-bapak, ibu-ibu, hingga anak-anak. Semangat kebersamaan lintas generasi terpancar jelas. Mereka kompak mengangkat ogoh-ogoh yang tingginya mencapai 3-4 meter itu, sesekali berhenti untuk berpose atau berputar-putar menghibur penonton.
“Setiap tahun kami selalu menanti pawai ogoh-ogoh. Ini tradisi yang harus dilestarikan. Anak-anak saya juga ikut mengusung, jadi mereka belajar tentang budaya sejak dini,” ujar Wayan Suparta, salah satu koordinator kelompok ogoh-ogoh asal Kecamatan Talun, ditemui di sela-sela pawai.
Blitar Tuan Rumah Tingkat Provinsi
Keistimewaan tahun ini, Blitar dipercaya menjadi tuan rumah pelaksanaan Tawur Agung Kesanga tingkat Provinsi Jawa Timur. Ketua Walaka Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Jawa Timur, I Nyoman Anom Mediana, yang hadir langsung dalam acara tersebut, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya.
“Blitar menunjukkan semangat luar biasa dalam menjaga tradisi dan nilai-nilai keagamaan. Antusiasme umat Hindu di daerah ini sangat tinggi, dan yang tidak kalah penting adalah dukungan penuh dari pemerintah daerah serta Forkopimda. Ini menjadi contoh yang baik bagi daerah lain di Jawa Timur,” ujar I Nyoman Anom Mediana dalam sambutannya.
Ia berharap pelaksanaan Tawur Agung di Blitar dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk terus merawat keberagaman dan toleransi antarumat beragama.
Bupati Riyanto: Wlingi Punya Tempat Istimewa
Bupati Blitar, Drs. H. Riyanto, yang turut hadir dan memberikan sambutan, mengaku bangga dan terharu karena Blitar dipercaya menjadi tuan rumah acara sebesar ini. Ia juga menyinggung kedekatan emosionalnya dengan Wlingi, wilayah yang pernah dipimpinnya saat menjabat sebagai camat bertahun-tahun lalu.
“Saya punya kenangan manis di Wlingi. Dulu saya pernah bertugas di sini sebagai camat. Melihat kegiatan sebesar ini berjalan dengan tertib, aman, dan penuh kekhidmatan, hati saya ikut bahagia. Ini membuktikan bahwa masyarakat Blitar, khususnya Wlingi, mampu menjadi tuan rumah yang baik,” ujar Riyanto.
Orang nomor satu di Kabupaten Blitar ini juga menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk terus mendukung kegiatan keagamaan semua umat beragama.
“Tawur Agung Kesanga ini bukan hanya milik umat Hindu, tetapi milik kita semua. Ini adalah kekayaan budaya dan spiritual bangsa. Mari kita jadikan momen ini untuk memperkuat persaudaraan dan kerukunan antarumat beragama di Blitar Raya,” tambahnya disambut tepuk tangan ribuan umat.
Sinergi Forkopimda dan Masyarakat
Acara ini juga dihadiri oleh jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Blitar, Kapolres Blitar, Kapolresta Blitar Kota, serta unsur Forkopimca Kecamatan Wlingi dan berbagai lembaga serta organisasi keagamaan Hindu. Kehadiran mereka menunjukkan sinergi yang kuat antara pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat dalam menjaga kelancaran acara keagamaan.
Kapolres Blitar menyampaikan bahwa pihaknya menerjunkan puluhan personel untuk mengamankan jalannya acara, terutama saat pawai ogoh-ogoh yang menjadi pusat keramaian. Alhamdulillah, hingga akhir acara situasi kondusif.
Menuju Nyepi yang Suci
Setelah pawai usai, ogoh-ogoh tersebut nantinya akan dibakar atau dilebur dalam prosesi yang melambangkan penghancuran sifat-sifat buruk dalam diri manusia. Dengan demikian, umat Hindu siap menjalani Catur Brata Penyepian dengan hati yang suci dan pikiran yang jernih.
Rangkaian Tawur Agung Kesanga 2026 di Blitar berjalan sukses. Ribuan umat, puluhan ogoh-ogoh, dan dukungan penuh dari pemerintah serta aparat keamanan menjadi bukti bahwa kerukunan dan toleransi di Blitar Raya bukan sekadar slogan, melainkan praktik nyata yang hidup di tengah masyarakat.
Dengan semangat kebersamaan dan nilai-nilai luhur yang terjaga, Blitar kembali menegaskan diri sebagai daerah dengan kehidupan keberagaman yang harmonis di Jawa Timur. Selamat merayakan Hari Suci Nyepi bagi umat Hindu. Semoga kedamaian menyertai kita semua.
Baca juga;














