Berita  

Catatan Panjang Pengabdian di Tengah Kubangan: Viralnya Perjuangan Guru Lampung Barat Menembus Jalan Berlumpur

Seorang guru berdiri di tengah jalan tanah berlumpur yang penuh genangan air dan bekas roda kendaraan. Dia menunjuk ke ban sepeda motor yang dililit rantai besi tebal. Di latar belakang, terlihat motor lain dan pepohonan, menggambarkan lokasi yang terpencil dan akses yang sangat sulit."
💔 Ini bukan medan latihan, ini jalan menuju sekolah sehari-hari. Guru-guru di Lampung Barat harus memasang RANTAI di ban motor untuk melalui jalan berlumpur demi mengajar. Pengabdian mereka nyata, perjuangan mereka mengharukan. Kapan akses pendidikan yang layak untuk para pahlawan tanpa tanda jasa ini? 😔

LAMPUNG BARAT, Mediapewarta.com – Sebuah video yang menyayat hati viral di media sosial, mengungkap realitas pahit yang dihadapi para pahlawan tanpa tanda jasa di pelosok negeri. Video itu menunjukkan perjuangan sejumlah guru di Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampung, yang harus berhadapan dengan jalan tanah berlumpur, licin, dan berlubang hanya untuk sampai ke tempat mereka mengabdi: SMPN 2 Satu Atap di Kecamatan Pagar Dewa.

Unggahan dari akun Instagram @lampung.24jam itu bukan sekadar dokumentasi, melainkan jeritan hati yang penuh harap. Dalam video, terdengar suara lirih seorang guru yang mengatakan, “Lihat ini, sampai asam lambung saya naik… Demi pendidikan di Indonesia.” Suara itu mewakili kepasrahan sekaligus keteguhan ribuan pendidik di daerah tertinggal yang setiap hari mempertaruhkan keselamatan untuk mencerdaskan anak bangsa.

Medan Berlumpur sebagai Ujian Harian
Kondisi jalan yang divisualkan benar-benar memprihatinkan. Tak ada sisa aspal yang mulus, hanya hamparan tanah basah yang berubah menjadi kubangan lumpur usai diguyur hujan. Genangan air mengisi lubang-lubang yang dalam, membuat kendaraan roda dua nyaris mustahil melintas dengan normal. Suara lain dalam video dengan lantang berseru, “Inilah pengabdian kami, kapan ya jalan kami akan dibangun? Pak, jalan anak-anak sekolah ini, Pak.”

Yang membuat gambar ini semakin menyentuh adalah upaya ekstrem yang harus dilakukan. Untuk mencegah ban motor selip dan terperosok, beberapa warga dan guru terpaksa memasang rantai besi pada ban motor mereka. Praktik yang biasanya hanya ditemui di daerah bersalju atau medan ekstrem pegunungan ini, menjadi pemandangan lumrah di jalur penghubung Pekon Srengit, Sidodadi, hingga Basungan ini. Seorang guru dalam video dengan polos menunjukkan rantai itu, “Dirantai ini bannya,” ujarnya, menggambarkan betapa rutinitas berbahaya telah dinormalisasi.

Echo Chamber Keprihatinan di Dunia Maya
Video tersebut langsung menuai gelombang empati dan keprihatinan luas dari warganet. Kolom komentar dipenuhi dukungan dan pengakuan senasib. Akun @wah*****j menulis, “Sedihnya, memang kenyataan yang mengabdi di desa-desa seperti itu, saya juga merasakan. Semangat kawan senasib.” Komentar lain seperti dari @sel**********a mendesak, “Makin banyak yang spill biar tau kondisi Lampung ini parah dan sudah tahunan,” mengindikasikan bahwa masalah ini adalah penyakit kronis, bukan insiden baru.

Banyak juga yang menyampaikan hormat dan semangat, “Tetap semangat Pak Guru, Bu Guru,” tulis @pam********9. Komentar-komentar ini membentuk sebuah ruang kesadaran kolektif bahwa perjuangan pendidikan tidak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi dimulai dari perjalanan berisiko menuju kelas tersebut.

Janji dan Tantangan Perbaikan dari Pemerintah
Merespon viralnya video ini, publik menoleh pada rencana yang telah diumumkan Pemerintah Provinsi Lampung melalui Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi (BMBK) sejak akhir Desember 2025. Pemerintah menyatakan telah mengalokasikan anggaran untuk perbaikan jalan di tahun 2026.

Namun, terdapat kesenjangan yang mencolok antara kebutuhan dan rencana. Ruas jalan yang viral tersebut panjangnya mencapai 17,3 kilometer. Sayangnya, hanya 2,72 kilometer yang masuk dalam program perbaikan tahun ini. Padahal, menurut kebutuhan masyarakat, setidaknya 11 kilometer jalan yang menjadi akses utama tersebut sangat mendesak untuk diperbaiki. Kesenjangan angka ini memantik pertanyaan kritis tentang skala prioritas dan kecepatan respons pemerintah terhadap penderitaan warga, khususnya dalam sektor vital seperti pendidikan dan akses transportasi.

Lebih dari Sekadar Masalah Jalan Berlubang
Kasus ini adalah potret mini dari masalah infrastruktur yang menghambat pemerataan pendidikan di Indonesia. Jalan yang buruk tidak hanya menyulitkan guru, tetapi juga berdampak pada:

1. Tingkat Kehadiran Siswa: Banyak anak dari desa terpencil yang mungkin memilih tidak sekolah saat hujan karena medan yang terlalu berbahaya.
2. Kualitas Pengajaran: Guru yang tiba di sekolah dengan kondisi fisik lelah dan mental terkuras akibat perjalanan berat dapat mempengaruhi efektivitas mengajar.
3. Distribusi Guru: Daerah dengan akses jalan buruk seringkali kesulitan menarik dan mempertahankan guru berkualitas, memperparah ketimpangan pendidikan.

Viralnya video ini adalah sebuah sensor sosial. Ia mengingatkan bahwa di balik jargon “meratakan pendidikan” dan “membangun dari pinggiran”, terdapat wajah-wajah lelah guru yang harus berperang dengan lumpur setiap hari. Perbaikan 2,72 kilometer mungkin sebuah awal, namun tangisan guru yang mempertanyakan “kapan jalan kami dibangun?” adalah pengingat bahwa keadilan infrastruktur harus berkejaran dengan laju keputusasaan. Pengabdian mereka patut diapresiasi, tetapi sudah seharusnya negara hadir memastikan pengabdian itu tidak lagi harus dibayar dengan risiko keselamatan yang sedemikian tinggi.

Baca juga;

Gratis! 200 Becak Listrik Prabowo Tiba di Sidoarjo, Para Tukang Becak Panjatkan Doa untuk Presiden

 

error: Content is protected !!
Exit mobile version