Warga Bener Meriah Jalan Kaki 3 Jam Cari BBM, Muncul ‘Pasar Minyak Dadakan’ di Tengah Isolasi

Perjuangan 3 Jam di Atas Reruntuhan
Puluhan warga terlihat mengerumuni sebuah mobil bak terbuka yang membawa drum-drum berisi BBM di Kampung Kem, Bener Meriah. Tebing dengan bekas tanah longsor yang masih merah menjadi latar belakang suram dari "pasar minyak dadakan" ini, yang menjadi satu-satunya sumber bahan bakar bagi warga dari Takengon dan Bener Meriah yang terisolasi.

ACEH, Mediapewarta.com – Lebih dari sepekan pasca bencana banjir dan longsor, puluhan ribu warga di pedalaman Aceh masih hidup dalam kepungan isolasi. Di Bener Meriah, sebuah “pasar minyak dadakan” menjadi simbol nyata dari perjuangan mereka untuk sekadar mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) dan sembako, dengan mengorbankan tenaga dan waktu berjalan kaki hingga 3-4 jam.

Video yang beredar di media sosial TikTok pada Jumat, 12 Desember 2025, memperlihatkan puluhan warga mengantre dan mengerubungi mobil-mobil bak terbuka yang mengangkut drum berisi BBM di Kampung Kem, Bener Meriah. “Suasana pasar minyak di kampung Kem. Warga berbondong-bondong datang dari Takengon dan Bener Meriah untuk membeli sembako dan BBM,” tulis keterangan dalam unggahan tersebut.

Adegan itu terjadi di tengah panorama tebing dengan bekas longsoran tanah yang masih merah, mengingatkan pada kondisi rapuh yang mereka hadapi. Sebelumnya, di video lain, terlihat warga harus melintasi jalur KKA Bener Meriah-Aceh Utara yang dipenuhi puing bekas longsoran untuk mencari bantuan. Seorang warga dalam video mengaku harus berjalan kaki selama 3 hingga 4 jam hanya untuk mendapatkan beras.

46 Ribu Jiwa Terjebak, Logistik Menipis

Kondisi “pasar dadakan” ini adalah dampak langsung dari isolasi total yang dialami setidaknya 46.611 jiwa warga Bener Meriah. Mereka tersebar di 23 desa di Kecamatan Pintu Rime Gayo, 10 desa di Gajah Putih, 15 desa di Mesidah, serta beberapa desa di Syiah Utama, Permata, dan Timang Gajah.

Kepala Dinas Kominfo Bener Meriah, Ilham Abdi, mengonfirmasi bahwa akses darat menuju dan antar wilayah terputus total, sehingga penyaluran bantuan yang idealnya lewat jalur darat menghadapi tantangan sangat besar. “Bahkan di beberapa titik, warga harus berjalan kaki sambil memikul logistik untuk dibawa ke kampung mereka,” ujarnya.

Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran serius akan ketersediaan bahan makanan, bahan bakar, serta kebutuhan dasar seperti susu bayi dan selimut yang mulai menipis di sejumlah wilayah.

Respons Pemerintah: Bantuan Udara dan Perbaikan Akses

Menanggapi kondisi darurat ini, pemerintah telah mengoptimalkan pengiriman bantuan melalui jalur udara. Pada Selasa (9/12), sebanyak 4 ton BBM jenis solar (setara 20 drum) dan 10 ton bantuan pangan kembali diterbangkan menggunakan pesawat TNI AU ke Bandara Rembele, Bener Meriah, untuk didistribusikan ke Bener Meriah dan Aceh Tengah.

Pertamina juga mengklaim terus mengoptimalkan pengiriman pasokan BBM, meski ke Aceh Tengah masih terbatas akses daratnya. “Meski di tengah keterbatasan dengan segala cara kami tempuh untuk distribusi BBM ke seluruh wilayah di Aceh,” tegas Sales Area Manager PT Pertamina Patra Niaga Aceh, Misbah Bukhori.

Di lapangan, tim gabungan fokus pada pemulihan akses, termasuk pembangunan jembatan darurat (Bailey) dan pembersihan material longsor. “Prioritas utama adalah keselamatan warga dan memastikan seluruh wilayah terdampak dapat segera terjangkau oleh bantuan,” kata Ilham Abdi.

Tudingan Hilangnya Bantuan dan Konflik Vertikal

Di tengah upaya penanganan, muncul isu yang berpotensi memperkeruh koordinasi. Gubernur Aceh, Muzakir Manaf (Mualem), mengungkap adanya dugaan hilangnya 80 ton logistik bantuan yang dikirim ke Bener Meriah. Ia menyebut masalah terjadi pada distribusi di lapangan yang diduga tidak tepat sasaran.

Namun, Bupati Bener Meriah, Tagore AB, membantah keras tuduhan tersebut. Ia menegaskan pihaknya telah membagikan bantuan secara adil dan merata kepada seluruh masyarakat terdampak, termasuk warga Aceh Tengah yang mengungsi ke wilayahnya.

Sementara perdebatan berlangsung di tingkat elite, ribuan warga di pedalaman Bener Meriah tetap harus mengandalkan kaki mereka sendiri dan “pasar minyak dadakan” untuk bertahan hidup, menunggu akses jalan yang terhubung kembali dan bantuan yang benar-benar sampai ke tangan mereka.

Baca juga;

Daster sebagai Simbol Ketahanan: Potret Pilu dan Haru Pengungsian Aceh Pasca Banjir Bandang

error: Content is protected !!
Exit mobile version