Grobogan, Mediapewarta.com – Sebuah video pendek berdurasi 27 detik yang diunggah oleh akun TikTok @bu_guru_nieng_kls4 mendadak viral dan menyentuh hati warganet. Dalam video tersebut, seorang guru wanita memperlihatkan kondisi jalan yang setiap hari ia lalui menuju tempat kerjanya, SDN 4 Pandanharum, yang terletak di Dusun Dawung, Kecamatan Gabus, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.
Jalan yang tampak dalam video bukanlah aspal mulus atau paving block, melainkan tanah merah yang becek, penuh kubangan air, dan licin selepas hujan. Sang guru bahkan harus melepas sepatu saat mengendarai motor agar tidak terpeleset. Video yang pertama kali diunggah pada akhir Januari 2026 ini mulai ramai diperbincangkan setelah diunggah ulang oleh akun Instagram @infogrobogan.id, ditonton lebih dari 170 ribu kali, dan memicu gelombang simpati dari berbagai kalangan.
Potret Jalan Menuju SDN 4 Pandanharum: Tanah, Lumpur, dan Licin
Video yang diunggah oleh akun TikTok @bu_guru_nieng_kls4 memperlihatkan hamparan jalan tanah berwarna cokelat kemerahan. Bekas roda kendaraan membentuk alur-alur dalam yang terisi air hujan. Di beberapa titik, genangan air menutupi hampir seluruh badan jalan, memaksa pengendara memilih jalur tepi yang lebih tinggi meski tetap licin.
“Akses jalan menuju SDN 4 Pandanharum, kali ini Bu Guru tidak pakai sepatu ya, karena jalan yang begitu licin dan berlumpur,” ujar sang guru dalam narasi video.
Ia menjelaskan bahwa melepas sepatu adalah cara agar kakinya bisa mencengkeram pedal motor dengan lebih baik. Jika tetap memakai sepatu, sol yang licin justru berisiko membuatnya terpeleset saat injakan.
Video lain yang diunggah kemudian menunjukkan kondisi saat hujan deras. Air mengalir di atas jalan, mengubah tanah menjadi lumpur kental yang lengket. Ban motor selip, dan pengendara harus menapakkan kaki ke tanah untuk menjaga keseimbangan.
Kesaksian Guru: 4 Tahun Berjuang Melewati Medan Berat
Guru yang akrab disapa Bu Guru Nieng ini telah mengajar di SDN 4 Pandanharum selama lebih dari empat tahun. Dalam unggahan terbarunya, ia menuliskan curahan hati yang menyentuh:
“Sudah hampir 4 tahun lebih saya mengajar di Dusun Dawung, tepatnya di SDN 4 Pandanharum. Banyak keluh kesah yang saya rasakan, hujan di tengah perjalanan, ban bocor di tengah hutan, dan masih banyak drama lainnya.”
Ia menceritakan bahwa perjalanan menuju sekolah tidak hanya melewati jalan berlumpur, tetapi juga melintasi area perkebunan dan hutan kecil. Ketika hujan turun deras, ia kerap kehujanan di tengah jalan karena tidak ada tempat berteduh. Ban bocor akibat paku atau benda tajam di jalan juga menjadi langganan.
Namun, semangat mengajar tetap menyala. Ia berharap pemerintah daerah dapat melihat perjuangan para guru dan warga yang setiap hari harus berhadapan dengan medan sulit.
“Semoga pemerintah segera membangun jalan lebih baik lagi,” tutupnya.
Viral di Media Sosial: Warganet Beri Dukungan dan Doa
Setelah diunggah ulang oleh akun Instagram @infogrobogan.id, video tersebut mendapat atensi luas. Hingga berita ini ditulis, unggahan tersebut telah ditonton lebih dari 170 ribu kali dan mendapat ribuan komentar.
Mayoritas warganet menyampaikan dukungan dan doa untuk para guru serta warga Dusun Dawung. Banyak juga yang menandai akun resmi pemerintah daerah dan meminta agar segera ada tindakan.
Akun @bu_guru_nieng_kls4 sendiri kemudian meninggalkan komentar di unggahan @infogrobogan.id:
“Alhamdulillah akhirnya video saya viral juga. Bantu viralkan video saya.”
Tujuannya jelas: agar suara mereka didengar oleh mereka yang memiliki wewenang untuk memperbaiki jalan.
Respons Pemerintah Kabupaten Grobogan
Viralnya video ini akhirnya mendapat tanggapan dari Pemerintah Kabupaten Grobogan, tepatnya dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR). Akun Instagram resmi DPUPR Grobogan meninggalkan komentar yang langsung menarik perhatian warganet:
“Mengenai Jalan Pandanharum – Dawung, lokasi ini tidak terlewat. Sudah masuk dalam rencana anggaran dari dana pinjaman tahun 2026 untuk perbaikan permanen dan hasil yang lebih baik.”
Pihak DPUPR juga menambahkan:
“Kita ingin penanganannya tidak hanya tambal sulam, makanya butuh proses penganggaran dan perencanaan yang matang. Sabar sekedap nggih sederek sedoyo (sabar sedikit lagi ya, semuanya).”
Pernyataan ini memberikan secercah harapan, meskipun warganet masih menanti realisasi di lapangan.
Mengapa Jalan Rusak Bisa Bertahan Lama? Faktor Anggaran dan Prioritas
Pertanyaan yang sering muncul di benak publik: mengapa jalan rusak seperti di Pandanharum bisa bertahan hingga bertahun-tahun tanpa perbaikan? Beberapa faktor menjelaskan hal ini:
a. Keterbatasan Anggaran Daerah
Kabupaten Grobogan memiliki luas wilayah yang besar dengan banyak desa terpencil. Anggaran infrastruktur yang tersedia setiap tahun harus dibagi ke ratusan ruas jalan. Prioritas biasanya diberikan pada jalan arteri dan kolektor yang menghubungkan pusat ekonomi.
b. Skala Prioritas
Jalan desa seperti Pandanharum–Dawung sering kali masuk dalam prioritas bawah karena tidak dilalui kendaraan umum berskala besar. Namun, bagi warga setempat, jalan itu adalah urat nadi kehidupan.
c. Proses Perencanaan dan Penganggaran
Perbaikan jalan permanen (hotmix atau beton) memerlukan studi kelayakan, perencanaan teknis, dan penganggaran yang matang. Pemerintah daerah harus memastikan dana tersedia dan proyek dapat dikerjakan tanpa kendala di lapangan.
d. Skema Pembiayaan
Dalam kasus ini, DPUPR menyebut akan menggunakan dana pinjaman tahun 2026. Artinya, pemkab kemungkinan mengajukan pinjaman ke pemerintah pusat atau lembaga keuangan untuk membiayai proyek infrastruktur, yang prosesnya memang memakan waktu.
—
Dampak Jalan Rusak bagi Pendidikan dan Kehidupan Warga
Jalan rusak bukan hanya soal kenyamanan, tetapi juga berdampak nyata pada berbagai aspek kehidupan:
Pendidikan
· Guru terlambat atau tidak masuk karena medan sulit, terutama saat hujan.
· Murid juga bisa mengalami hal serupa. Beberapa murid SDN 4 Pandanharum berasal dari dusun lain yang harus melewati jalan serupa.
· Semangat mengajar terkikis jika setiap hari harus berjuang melawan lumpur.
Ekonomi
· Mobilitas barang terhambat. Hasil pertanian warga sulit diangkut ke pasar.
· Harga kebutuhan pokok menjadi lebih mahal karena biaya transportasi tinggi.
· Akses kesehatan terganggu. Jika ada warga sakit mendadak, kendaraan sulit melintas cepat.
Sosial
· Isolasi wilayah. Dusun Dawung dan sekitarnya menjadi terisolasi saat musim hujan.
· Ketimpangan pembangunan. Wilayah yang sulit dijangkau cenderung tertinggal dalam berbagai aspek.
—
Rencana Perbaikan 2026: Apa Arti “Penanganan Permanen”?
Pernyataan DPUPR tentang “penanganan permanen” patut dicermati. Apa yang dimaksud dengan perbaikan permanen?
Jenis Perbaikan Jalan:
1. Tambal sulam (patching) – Hanya menambal lubang dengan material seadanya, cepat rusak lagi.
2. Pengerasan dengan batu (makadam) – Lebih baik dari tanah, tapi masih bisa rusak jika terkena air terus-menerus.
3. Hotmix (aspal) – Lapisan aspal panas yang lebih tahan lama, cocok untuk jalan dengan beban sedang.
4. Beton (rigid pavement) – Menggunakan plat beton bertulang, sangat kuat dan tahan terhadap air, cocok untuk jalan desa yang sering tergenang.
Jika DPUPR berencana melakukan perbaikan permanen dengan hasil lebih baik, kemungkinan besar yang dimaksud adalah pengerasan beton atau hotmix berkualitas tinggi. Ini akan mengatasi masalah lumpur dan genangan air secara tuntas.
Namun, warganet berharap agar rencana ini tidak sekadar wacana. Banyak pengalaman di berbagai daerah di mana janji perbaikan jalan tertunda bertahun-tahun.
Harapan Guru dan Warga: Semoga Tidak Hanya Janji
Setelah mengetahui respons pemerintah, Bu Guru Nieng kembali mengunggah video singkat yang menyampaikan rasa syukur sekaligus harapan:
“Terima kasih kepada semua yang sudah mendukung. Semoga jalan kami segera diperbaiki. Amin.”
Warga sekitar juga berharap agar proses perbaikan dapat segera dimulai. Beberapa di antaranya bahkan bersedia membantu jika diperlukan, misalnya dengan menyediakan lahan untuk pengerjaan atau bergotong royong.
Dalam wawancara terpisah dengan salah satu warga Dusun Dawung, ia mengatakan:
“Kami sudah puluhan tahun lewat jalan ini. Setiap hujan pasti susah. Kalau memang ada rencana perbaikan, kami sangat berterima kasih. Jangan sampai hanya janji politik.”
Pelajaran dari Viral: Kekuatan Media Sosial dalam Mendorong Perubahan
Kisah ini menjadi contoh nyata bagaimana media sosial dapat menjadi alat untuk menyuarakan aspirasi warga. Sebuah video pendek yang diunggah dengan tulus mampu menarik perhatian ribuan orang dan akhirnya sampai ke telinga pemangku kebijakan.
Beberapa pelajaran yang bisa dipetik:
· Kekuatan viral – Dalam era digital, masalah sekecil apa pun bisa menjadi sorotan nasional jika dikemas dengan baik dan menyentuh emosi publik.
· Akuntabilitas pemerintah – Viralnya suatu isu memaksa pemerintah untuk merespons cepat, karena publik mengawasi.
· Peran warganet – Dukungan dan doa dari warganet memberikan semangat bagi mereka yang berjuang di lapangan.
· Pentingnya advokasi digital – Masyarakat kini memiliki saluran untuk menyuarakan aspirasi tanpa harus melalui birokrasi panjang.
Namun, viral juga perlu diikuti dengan monitoring berkelanjutan. Publik harus terus mengawal agar janji perbaikan tidak menguap begitu saja setelah isu mereda.
Kesimpulan
Viralnya video guru SDN 4 Pandanharum yang melewati jalan berlumpur setiap hari telah membuka mata banyak pihak tentang kondisi infrastruktur di pelosok Grobogan. Perjuangan Bu Guru Nieng dan rekan-rekannya adalah cerminan dedikasi para pendidik di daerah terpencil yang rela menghadapi medan sulit demi mencerdaskan anak bangsa.
Respons cepat dari Pemkab Grobogan melalui DPUPR patut diapresiasi. Rencana perbaikan permanen pada tahun 2026 memberikan harapan baru bagi warga Dusun Dawung. Namun, publik akan terus mengawal agar realisasi tidak meleset dari jadwal.
Kisah ini juga mengingatkan kita semua bahwa pembangunan infrastruktur yang merata adalah kunci untuk mengurangi ketimpangan antara desa dan kota. Jalan yang baik bukan hanya soal kenyamanan, tetapi juga hak dasar warga negara untuk mengakses pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.
Semoga tahun 2026 benar-benar menjadi tahun perubahan bagi Jalan Pandanharum–Dawung. Dan semoga Bu Guru Nieng serta semua guru di pelosok Nusantara selalu diberikan kesehatan dan keselamatan dalam menjalankan tugas mulia mereka.
